Share this :

By Dr. Abdul Mukmin, M.Pd.I

Pendidikan di Indonesia berada di persimpangan jalan, antara pendidikan feodalistik dan liberalistik, antara teacher oriented dan student oriented, antara behavoirisme kognitivisme dan humanisme konstruktivisme. Sistem pendidikan Indonesia masih mencari bentuk dan jati dirinya. Mau dibawa ke mana sistem pendidikan kita ? Begitu kira-kira pertanyaan besar di benak para praktisi dan pegiat pendidikan.

Belum lama ini Bapak Menteri Pendidikan Nadhiem Makarim menyimpulkan bahwa solusi pendidikan Indonesia adalah merdeka belajar bagi siswa, guru, kepala sekolah dengan menerbitkan 4 kebijakan; USBN, UN, RPP dan sistem zonasi untuk PPDB. Hal itu tentunya sah-sah saja sebagai langkah awal untuk sedikit meringankan beban guru, siswa dan kepala sekolah. Namun menurut saya ada hal yang sebenarnya lebih urgent dari sekedar merubah atau mengganti sistem yang sudah ada yaitu karakter dan etos kerja.

Sistem sebaik apapun jika karakter dan etos kerja kurang baik maka pasti hasilnya nihil. Oleh karenanya, yang perlu dikawal adalah meningkatkan karakter dan etos kerja pegiat pendidikan mulai dari guru, pegawai, kepala sekolah dan Dinas Pendidikan. Ada dua hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan karakter dan etos kerja yaitu pembinaan dan pengawasan. Dua hal ini yang perlu untuk ditingkatkan baik kualitas dan kuantitasnya.

Pertama, Pembinaan. Pembinaan yang dilakukan selama ini masih pada pembinaan teknis praktis, tidak mencakup pembinaan mental dan spiritualnya. Padahal pembinaan mental dan spiritualitas guru sangat penting dan memiliki pengaruh secara signifikan terhadap etos kerjanya.

Dr. Abu Bakar Baharun dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara spiritualitas guru dengan etos kerja. Nilai keikhlasan, kejujuran, amanat, pengabdian, pengorbanan, semangat beramal, berbagi, dan berinvestasi akherat sangat penting untuk ditanamkan bagi guru, kepala sekolah dan juga pegawai.

Nilai-nilai ini sekarang ini sudah semakin pudar dan langka. Banyak dari para pegiat pendidikan berorientasi pada bisnis dan materi dalam melaksanakan proses pendidikan. Banyak guru pintar tetapi tidak membawa nilai-nilai kebenaran. Banyak guru yang ahli tetapi tidak memiliki hati. Sehingga tidak heran kalau sementara ini ada asumsi yang menyebutkan bahwa tunjangan sertifikasi guru tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Hal itu karena faktor utama yaitu karakter guru masih terabaikan. Untuk itu, pelatihan-pelatihan mental spiritual guru perlu diadakan. Karena dari sinilah akan muncul semangat dan etos kerja dalam bekerja serta akan tumbuh kreativitas dan inovasi dalam mengajar.

Kedua, pengawasan. Manusia adalah makhluk yang cenderung untuk berbuat salah dan lupa. Untuk itu diperlukan pengawasan dalam rangka untuk saling mengingatkan akan kebenaran dan kesabaran. Pengawasan yang dilakukan sementara ini sudah ada namun masih jauh dari harapan. Hal itu karena kurangnya tenaga pengawas baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Dari segi kuantitas, jumlah pengawas masih sangat minim dan sedikit sehingga kadang satu pengawas membawahi 10 sekolah atau lebih. Sehingga sulit baginya untuk mengawasi secara maksimal. Dari segi kualitas pengawas juga perlu ditingkatkan agar benar-benar melakukan pengawasan secara baik. Kualifikasi pengawas harus ditingkatkan seiring dengan kemajuan zaman.

Dengan pembinaan dan pengawasan yang baik, dapat dipastikan pendidikan akan semakin menigkat, siswa akan semakin baik dan berprestasi.

Share this :