Bagaimana Membangun Sekolah Yang Ideal Pak Nadhiem ?

Bagaimana Membangun Sekolah Yang Ideal Pak Nadhiem ?

Dalam beberapa bulan terakhir ini, kita sering dikejutkan dengan kebijakan-kebijakan dan statement-statement Bapak Mendikbud kita Bapak Nadhiem Makarim seperti tentang penghapusan ujian nasional, kebebasan belajar siswa, dan guru penggerak, belajar tidak perlu di kelas, dan lainnya.

Saat memberikan sambutan di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Rabu (4/12/2019). Mendikbud menjelaskan dua hal; pertama, saat ini seharusnya dunia pendidikan memasuki pradigama baru dimana pemerintah memberikan kebebasan, kepercayaan dan otonomi kepada institusi-institusi pendidikan. Selain itu, kata Nadiem, dunia tengah masuk fase tidak menentu. Ia beralasan, gelar tidak lagi menjamin kompetensi, mahasiswa lulus bisa berkarya, akreditasi tidak menjamin mutu, hingga belajar tidak lagi harus di kelas.

Kedua, mengubah paradigma bahwa dosen menggurui dan hanya memberikan ceramah. Dosen penggerak akan mencari ilmu baru secara otomatis dan akan mencari orang-orang lain untuk meningkatkan pembelajaran di kelasnya,” jelas Nadiem.

Sebenarnya yang diperlukan sekarang menurut saya adalah langkah konkrit sistem pendidikan yang ideal itu seperti apa ? Sekolah dan perguruan tinggi yang baik itu seperti apa? Sehingga tidak membingungkan yang di bawah. Apalagi mendeligitimasi sistem pendidikan dan lembaga pendidikan yang dibawahinya sendiri. Jelas hal ini kontraproduktif bagi instansi yang dibawahinya. Semuanya tidak berani ambil kebijakan “wait and see”. Karena ditakutkan ada perubahan-perubahan yang mendadak seperti kurikulum, dan lainnya.

Menurut saya, Bapak Nadhiem tidak perlu banyak kritikan dan retorika. Karena Bapak Nadhiem sekarang posisinya sebagai eksekutor kebijakan pendidikan di Indonesia. Mau dibawa kemana sistem pendidikan kita? Filsafat pendidikan Indonesia seperti apa? Apa tujuan pendidikan Nasional kita ? Apakah sekolah untuk mencari pekerjaan semata? Apakah sekolah identik dengan lembaga kursus atau balai latihan kerja? Apakah mengikuti sistem pendidikan Finlandia, Jepang, China atau Korsel yang menjadi pioneer di bidang pendidikan dewasa ini. Dan masih banyak pertanyaan mendasar lainnya yang perlu didiskusikan dengan pihak-pihak yang kompeten untuk mendapatkan gambaran ideal tentang sistem pendidikan dan sekolah di Indonesia sekarang ini. Setelah itu action! Selamat bekerja

Bagaimana Mengembangkan Kreativitas Dalam Pembelajaran

Bagaimana Mengembangkan Kreativitas Dalam Pembelajaran

Dewasa ini kita sering mendengar keluhan dari para guru bahwa banyak siswa sekarang ini yang kurang perhatian terhadap pelajaran, malas, mengantuk di kelas dan lainnya. Tentunya fenomena ini perlu dilihat secara objektif; bisa jadi memang karena siswa sedang mengalami bad mood, ada masalah, sehingga perlu dilakukan pembinaan khusus, atau mungkin karena metode pembelajaran yang diberikan oleh seorang guru kurang baik dan tidak menyenangkan. Pembelajaran di kelas seringkali dilakukan secara monoton, kaku dan menjemukan. Sehingga tidak sedikit para siswa yang kurang perhatian dengan pelajaran, ada yang ramai, tidak peduli dan mengantuk. Kondisi seperti ini bisa diperbaiki dengan meningkatkan kreativitas guru dalam menyampaikan pembelajaran. Karena, kreativitas guru dalam menyampaikan pelajaran sangat dibutuhkan untuk memantik semangat, gairah dan ketertarikan siswa dalam belajar dan juga dalam menyampaikan informasi secara mudah dan menyenangkan.

Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan gagasan baru yang orisinal dan appropriate (cocok untuk mencapai hasil yang diinginkan) dengan sebaik-baiknya. Menurut para ahli, kreativitas merupakan hasil operasi otak kanan. Kreativiatas disebut juga pikiran-pikiran divergen (melebar) karena melibatkan berbagai kemungkinan cara untuk mencapai hasil terbaik yang diinginkan dan bukan pemikiran biasa yang sistematis dan berfokus pada satu kemungkinan.

Dalam psikologi positif, kreativitas dipercayai terjadi dalam keadaan flow, yakni ketika orang betul-betul terserap dan menikmati apa yang sedang dilakukan, kehilangan sense waktu, pikiran terpusat pada momen sekarang, merasa dalam kontrol penuh atas segala sesuatu, dan merasa benar-benar bebas. Dalam neuroscience keadaan ini diobservasi terjadi saat otak kita berada dalam suatu keadaan santai dan menyenangkan gelombang theta yakni ketika berada dalam keadaan antara jaga dan tidur.

Di sisi lain kreativitas sangat bergantung pada daya imajinasi, yaitu kemampuan membayangkan sesuatu tanpa melalui prosedur persepsi atas sesuatu itu dalam keadaan konkritnya. Dengan kata lain, semakin imajinatif maka semaikin kreatif. Bagaimana caranya menghasilkan kreativitas?

Menurut Graham Wallas yang dikemukakan pada tahun 1926 dalam bukunya “The Art of Thought” (Piirto, 1992), kreativitas melibatkan empat tahap; persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Pada tahap pertama, seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang lain, dan sebagainya. Pada tahap ini kita mengeksplorasi semua kemungkinan menghasilkan gagasan baru dengan cara apapun seperti brainstorming dan lainnya.
Pada tahap kedua, kegiatan mencari dan menghimpun data/informasi tidak dilanjutkan. Tahap inkubasi adalah tahap di mana individu seakan – akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi “mengeramnya” dalam alam pra – sadar. Sebagaimana terlihat dari analisis biografi maupun dari laporan tokoh seniman dan ilmuwan, tahap ini penting artinya dalam proses timbulnya inspirasi yang merupakan titik mula dari suatu penemuan atau kreasi baru berasal dari daerah pra – sadar atau timbul dalam keadaan ketidaksadaran penuh.

Tahap ilumunasi adalah tahap timbulnya “insight” atau “Aha – Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau gangguan baru, beserta proses – proses psikologi yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru.

Ketika seseorang sudah melakukan eksplorasi beberapa gagasan kemudian dia beristirahat sejenak dengan jalan santai, atau mandi di bath tub, berkendara di jalan tol atau nongkrong di warung kopi, dengan suasana santai dan rileks kemudian muncul ide yang cemerlang sehingga kita mampu mendapatkan meoment “aha”, yakni lampu otak kita menyala dengan membawa gagasan orisinal, maka kita telah melewati tahapan inkubasi dan iluminasi.

Tahap verifikasi atau evaluasi adalah tahap di mana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Dengan perkataan lain, proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti oleh proses konvergensi (pemikiran kritis).

Terkait dengan pembelajaran, suasana belajar mengajar yang penuh variasi pengalaman belajar, penyediaan ruang seluas-luasnya untuk mencoba hal baru serta atmosfir yang menyenangkan dan bebas dari ketakutan mengalami kegagalan merupakan prasayarat-prasyarat yang harus dipenuhi dalam rangka meningkatkan kreatifitas bagi siswa dan guru. Di samping itu diperlukan suasana otak yang flow, santai, dan tidak banyak terbebani dengan berbagai tugas yang memberatkan dan kondisi emosi positif. Dengan demikian akan muncul gagasan-gagasan baru dan kreativitas semakin meningkat. Selamat mencoba

Selamat Datang Muridku

Selamat Datang Muridku

Hari ini adalah awal semester genap tahun ajaran 2019, setelah menghabiskan liburan akhir semester ganjil selama 2 minggu. Hari-hari ini merupakan hari yang amat berat bagi santri untuk kembali belajar dengan penuh semangat. Ibarat mesin yang sudah lama dimatikan membutuhkan waktu pemanasan yang cukup untuk bisa berjalan kembali sebagaimana biasanya. Untuk itu perlu dukungan dari para guru dan pendidik untuk dapat membangkitkan kembali semangat dan gairah belajar mereka. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan oleh para guru agar mampu membangkitkan semangat siswa.

Pertama, Sambutlah kehadiran siswa dengan senang hati, ibarat seorang ayah yang bejumpa dengan anaknya sudah lama tidak bertemu dari perantauannya. Sambutan yang hangat akan menimbulkan efek positif bagi siswa. Sambutan yang hangat dapat berupa ucapan-ucapan yang menyenangkan, pelukan, atau ungkapan-ungkapan yang membuat siswa merasa berharga dan dicintai oleh gurunya.

Kedua, jangan terlalu berambisi untuk langsung masuk pada pelajaran. Berikanlah waktu untuk siswa beradaptasi kembali dengan dunia sekolah. Ajak mereka untuk masuk ke dunia sekolah secara pelan-pelan, seperti dengan memberikan mereka kesempatan untuk menceritakan masa liburannya dengan bahasa mereka untuk kemudian dikaitkan dengan materi yang akan dipelajari. Dalam pelajaran bahasa Inggeris mungkin bisa dilakukan dengan bahasa Inggeris.

Ketiga, Kaitkan pelajaran dengan dunia nyata di luar sekolah. Gunakan teknologi dalam pembelajaran agar memudahkan proses pengintegrasian pelajaran dengan kejadian-kejadian yang ada di luar sekolah. Pembelajaran yang berbasis teknologi dewasa ini menjadi sebuah keharusan. Karena siswa kita setiap hari bergelut dengan dunia digital. Jika tidak, maka jangan harap siswa akan antusias terhadap pelajaran yang kita ajarkan. Kreatifitas guru adalah kunci keberhasilan guru di era digital ini. Ingat era sekarang berbeda dengan era kita dahulu. Jangan gunakan cara kita belajar dulu untuk mengajarkan siswa kita sekarang ini.

Keempat, guru memiliki semangat yang menyala. Ingat semangat siswa dalam belajar tergantung pada semangat guru dalam mengajar. Jika guru memiliki semangat yang luar biasa dalam mengajar sudah pasti akan berpengaruh pada semangat siswanya. Jika tidak, maka jangan harap siswa akan semangat dalam pelajarannya. Untuk itu diperlukan spirit yang kuat bagi guru dalam mengajar. Guru harus menata kembali niatnya dalam mengajar dan philosofinya sebagai seorang guru yang harus menyandang sifat-sifat mulia seperti; keikhlasan, pengabdian, kecintaan, dan lainnya. Sehingga dengan demikian dia akan mencintai pekerjaannya dan bangga menjadi seorang guru. Sehingga dengan demikian akan muncul semangat yang menyala di hati seorang guru.

Itulah beberapa hal yang menurut saya perlu diperhatikan untuk menyambut siswa-siswa kita dalam belajar di awal semester genap ini.

Kebebasan Belajar siswa

Kebebasan Belajar siswa

Tidak sampai 100 hari Bapak Nadhiem Makarim selaku Mendikbud menyimpulkan bahwa di antara permasalahan pendidikan di Indonesia adalah tidak adanya kebebasan belajar siswa. Untuk itu dikeluarkan Permendikbud tentang 4 kebijakan pemerintah ; RPP yang sederhana, USBN, UN dan PPDB. Konon kebijakan itu untuk memberikan akses bagi kebebasan belajar siswa dan guru penggerak.

Kebijakan ini mungkin merupakan awal dari beberapa gebrakan baru lainnya. Karenanya hal ini patut untuk diapresiasi. Hanya saja, menurut saya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, masalah pendidikan tidak bisa diselesaikan secara parsial. Permasalahan pendidikan harus diselesaikan secara menyeluruh dan konprehensif mulai dari filsafat pendidikan, tujuan nasional pendidikan, kompetensi-kompetensi yang ingin dicapai untuk merealisasikan tujuan pendidikan nasional tersebut, teknis pelaksanaan di lapangan dan evaluasinya. Karena hal itu merupakan satu paket lengkap. Mau dibawa ke mana pendidikan kita ?

Kedua, Kebebasan siswa berkaitan erat dengan kebebasan guru. Kebebasan guru sangat tergantung kepada Kepala Sekolah dan Kepala Sekolah tergantung dengan Kurikulum yang diterapkan di sekolah. Untuk itu yang perlu diperhatikan juga adalah kebijakan-kebijakan tentang Kepala Sekolah dan kewenangannya dalam menyusun kurikulum yang sesuai dengan sekolahnya. Kepala Sekolah sementara ini masih banyak dibebani dengan tugas-tugas adminstratif dan kegiatan di luar sekolah. Sehingga tugas manajerial dan supervisi pembelajaran yang merupakan tugas inti terabaikan.

Ketiga, Terkait dengan USBN dan UN, perlu ada juknis khusus yang mengatur. Sehingga tidak sampai membingungkan pelaksana di daerah dan di sekolah dan memberikan akses buruk bagi motivasi belajar siswa. Seperti halnya Perhatian khusus pada karakter sebagai dasar kelulusan siswa memang sangat bagus. Namun perlu ada kejelasan aturan tentang karakter seperti apa yang diinginkan dan yang tidak diinginkan yang menentukan kelulusan siswa.

Demikian beberapa hal yang menurut saya perlu untuk diperhatikan oleh Kemendikbud dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan agar tidak menimbulkan kegaduhan di tingkat daerah dan di sekolah sebagai pelaku pendidikan.

Kiat Menjadi Guru Inspiratif

Kiat Menjadi Guru Inspiratif

Maju dan mundur sebuah negara bergantung pada pendidikannya. Oleh karenanya tidak heran kalau negara-negara maju memberikan perhatian besar terhadap sektor pendidikan melebihi sektor-sektor lainnya. Karena pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kemajuan dan kemunduran suatu bangsa dan negara. Syukur alhamdulillah Indonesia sudah mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20 % dari APBN. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dan untuk meningkatkan mutu pendidikan variabel penting yang tidak bisa dipisahkan adalah peran guru. Karena di tangan guru seorang anak akan menjadi sukses, cemerlang atau justru menjadi gagal dan terpuruk di masa yang akan datang.

Untuk memaksimalkan peran guru, tentunya sangat ditentukan oleh pribadi guru masing-masing. Faktor lain di luar kepribadiannya merupakan faktor pendukung. Dengan demikian hendaknya seorang guru memiliki kepribadian yang menarik, visioner, dan inspiratif tingkat dewa. Guru yang baik adalah guru yang dapat memberikan spirit dan inspirasi kepada anak didiknya untuk terus belajar, berkarya dan mengabdi untuk negeri. Berikut ini beberapa kiat untuk menjadi guru Inspiratif tingkat dewa yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

Pertama, Memiliki Niat yang Ikhlas.

Keikhlasan niat dalam mengajar merupakan faktor penting dalam pembelajaran. Karena niat itulah yang akan menentukan arah dan  kualitas pembelajaran . Guru yang mengajar karena ingin mendapatkan gaji bulanan semata, dia akan mengajar biasa-biasa saja. Yang penting baginya adalah dapat gaji bulanan. setiap harinya tidak lebih dari datang absensi, masuk kelas, mengajar dan pulang. Gaji bulanan baginya adalah tujuannya dalam mengajar. Dengan demikian gaji sangat menentukan kinerjanya. Berbeda dengan guru yang memiliki niat yang tulus karena ingin mendapatkan ridho Allah dan untuk mencerdaskan peserta didiknya, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk memahamkan murid-muridnya dengan berbagai cara dan pendekatan. Gaji tidak mempengaruhi kinerjanya, baginya tidak ada hubungan antara gaji dengan kinerja. Seberapa besar gaji yang diterimanya dia tetap bersyukur dan berbahagia. Karena masalah rizqi bukan hanya uang dan tidak hanya didapat dari mengajar.  Sehingga dengan demikian dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakakan pembelajaran yang bermakna, menarik dan bermutu. Sebaliknya, guru yang mengajar hanya karena tuntutan materi, tugas dan karir semata, akan mengajar asal-asalan dan tidak terprogram dengan baik. Semua dikerjakan hanya sebatas menjalankan kewajiban dan lepas tanggung jawab. Guru yang ikhlas mengajar dengan hati dan cinta, sementara yang tidak ikhlas akan mengajar dengan emosi dan kebencian.

Kedua, Memiliki Cinta Kasih

Profesi mengajar sebagai guru merupakan profesi mulia. Ia merupakan profesi para nabi, rasul dan tokoh dunia lainnya. Karenanya seyogyanya seorang guru merasa bangga dan mencintai profesinya dengan sepenuh hati. Baginya mengajar merupakan bagian dari dirinya yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa profesi mengajar dia bukan siapa-siapa. Dengan mencintai profesinya ini seorang guru pasti akan berusaha untuk menjadikan pembelajarannya menarik, dapat dipahami dengan mudah dan disenangi oleh murid-murdnya. Dia akan senang ketika sedang mengajar dan murid-muridnya bisa memahami apa yang diajarkan. Sebaliknya, dia akan merasa sedih jika murid-muridnya tidak dapat memahami pembelajarannya. Karena dia sangat mencintai murid-muridnya dengan sepenuh hatinya. Dia tidak akan melabeli muridnya dengan kata-kata negatif seperti “bodoh”, atau “nakal”. Dengan kecintaan, seorang guru akan tabah dalam menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dalam mengajar, karena cinta itu buta, begitu kata pepatah. Begitulah Nabi Isa membawa cinta kasih kepada umatnya.

Ketiga, memiliki keyakinan

Nabi Ibrahim ketika mendapatkan musibah akan dibakar dia yakin bahwa dia pasti selamat, karena Allah bersamanya tidak akan meninggalkannya. Seorang guru harus memiliki keyakinan yang kuat bahwa dia ” pasti bisa”. Rasa percaya diri, merupakan hal yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin sukses di bidangnya. Seorang pengusaha yang ingin sukses dia  harus yakin bahwa dirinya akan menjadi orang yang sukses dalam usahanya tersebut. Sama halnya dengan seorang guru. Dia harus memiliki keyakinan dan kepercayaan pada dirinya bahwa dia pasti bisa mengajar dengan baik sehingga dapat dimengerti dan diterima oleh murid-muridnya. Dengan demikian, dia tidak gampang patah semangat ketika mendapatkan hambatan dan rintangan dalam proses pembelajaran.

Keempat, memiliki kesabaran

Mengajar memang bukan pekerjaan mudah. Banyak hambatan dan tantangan yang akan dihadapi oleh seorang guru dalam proses pembelajaran, mulai dari penguasaan materi, perencanaan pembelajaran, pemilihan strategi mengajar, pembuatan media dan sarana belajar, penguasaan kelas, penilaian dan interaksi dengan siswa. Semuanya membutuhkan keahlian tersendiri dan memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Untuk itu seorang guru harus sabar dan lapang dada dalam menjalaninya. Belum lagi dihadapkan dengan “kenakalan siswa” dan “kekurang ajarannya”. Guru yang baik, bila ada murid-muridnya yang nakal atau kurang ajar dia selalu mendoakannya di setiap sholatnya. Ini tentunya membutuhkan kelapangan dada. Sehingga dengan demikian dia akan tetap bersemangat dan berusaha menghadapinya dengan baik. Karena, pada hakikatnya tantangan -tantangan di atas adalah pemicu untuk meningkatkan kehliannya di bidang pembelajaran. Untuk itu seorang guru juga harus mengupdate diri terkait dengan psikologi perkembangan siswa, ilmu mengajar (peadagogik), model-model dan strategi mengajar, dan lainnya. Bersabarlah seperti kesabaran Nabi Ayub, begitu firman Allah swt dalam Qurannya.

Kelima, memiliki keteladanan

Seorang guru adalah panutan. Karenanya dia harus memiliki karakter, akhlak yang baik sehingga dapat mempengaruhi karakter dan akhlak muridnya. Ada pepatah mengatakan ” guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Ini benar, Karena bagaimanapun seorang murid pasti akan berkaca pada gurunya. Karenanya seorang guru harus memiliki karakter dan etika yang baik seperti; jujur, terpercaya, tanggung jawab, sopan santun, ramah, kasih sayang, dermawan, murah senyum, dan lainnya. Seorang guru harus menjadi contoh dalam setiap tindakan dan ucapannya. Ketika dia memberikan aturan, tata tertib dan ketentuan apapun, hendaknya dia sudah harus menjalankan secara konsekwen lebih dahulu sebelum murid-muridnya. Dia harus konsekwen dan konsisten terhadap keputusan-keputusannya. Rasulullah berhasil menaklukkan Makkah dan Madinah dan seluruh dunia dengan keteladanan dan akhlaknya yang mulia.

Keenam, memiliki ketrampilan

Nabi Daud mampu melunakkan besi dengan keahliannya. Seorang guru harus memiliki ketrampilan mengajar yang luar biasa yang dapat melunakkan hati murid-muridnya sehingga pembelajarannya menyenangkan dan memahamkan. Untuk itu seorang guru harus memiliki ketrampilan-ketrampilan yang dapat menggairahkan proses pembelajaran seperti; (1) Ketrampilan membuat lesson plan (RPP). Karena pembelajaran harus didesain dengan baik. Ada uangkapan mengatakan : Kegagalan dalam merencanakan berarti merencanakan kegagalan. Artinya jika pembelajaran tidak terencana dengan baik, maka sama artinya dengan merencanakan kegagalan dalam mengajar. Untuk itu pembelajaran harus direncanakan dengan matang, mulai dari analisis kompetensi, indikator, dan tujuan pembelajaran, pemilihan strategi dan media pembelajaran, proses dan penilaian pembelajaran. (2) Ketrampilan menggunakan “ice breaking”. Suasana pembelajaran kadang menjemukan dan membosankan. Di sinilah seorang guru harus pandai mencairkan suasana dengan memberikan ice breaking, bisa dengan cerita-cerita lucu, gerakan senam otak, atau lainnya. Keahlian dalam memberikan ice breaking akan dapat menstimulasi siswa dalam belajar. Karena siswa akan dapat belajar dengan baik, mana kala kondisi otak pada gelombang alfa, santai, asyik, menyenangkan. (3) Ketrampilan melibatkan siswa dalam pembelajaran. Guru mengajar belum tentu siswa belajar. Untuk itu diperlukan ketrampilan siswa dalam melibatkan siswa dalam pembelajaran. Sudah bukan waktunya lagi guru hanya berceramah di dalam kelas dan siswa hanya mendengarka. Siswa harus aktif dan dilibatkan dalam setiap pembelajaran. Biarkan siswa menemukan dan mengeksplorasi sendiri ilmu yang dipelajarinya, guru hanya mengarahkan dan membimbingnya. (4) Ketrampilan mengelola kelas. Kelas yang kondusif akan sangat memudahkan pembelajaran. Untuk itu guru harus memiliki ketrampilan mengelola kelasnya misalnya dengan membuat kontrak belajar terlebih dahulu. Guru dengan siswanya membuat aturan-aturan yang disepakati bersama untuk menciptakan kondisi belajar yang kondusif. Dengan kontrak belajar yang dijalankan secara konsekwen dan adil tanpa pandang bulu, kelas akan menjadi kondusif dan pembelajaran berjalan dengan baik.

Demikian, beberapa kiat menjadi guru inspiratif tingkat dewa yang dapat meningkatkan proses pembelajaran dan dapat merubah karakter, kepribadian, tingkah laku dan wawasan keilmuan peserta didik.