Share this :

Karakter adalah sifat yang melekat pada diri manusia sejak lahir. Pada dasarnya karakter merupakan akibat dari penggunaan potensi-potensi dasar yang Allah swt berikan kepada manusia. Manusia sejak lahir dibekali dengan 4 potensi dasar; 1. Al-Quwwah al-aqliyah (Potensi akal,  untuk berfikir dan menganalisa) 2. Al-Quwwah al- ghodhobiyyah ( potensi marah untuk mengalahkan dan menguasai ). 3. Al-Quwwah al-Syahwiyyah (Potensi syahwat dan keinginan untuk bisa menikmati dan menginginkan sesuatu). 4. al-Quwwah al-wahmiyyah (potensi imajinasi untuk merencanakan sesuatu, membuat asumsi, angan-angan)

Jika kekuatan akalnya dapat mengalahkan tiga kekuatan lainnya, maka dia akan menjadi manusia yang adil bijaksana. Jika kekuatan akalnya mampu mengalahkan kekuatan marahnya maka dia akan memiliki sifat syaja’ah (berani) berani berbicara, berjuang, mengorbankan diri, menjaga hak-hak orang, melindungi, namun jika akalnya dikalahkan oleh kekuatan amarahnya maka dia akan memiliki karakter tahawwwur (ngawur) suka menindas, berbuat aniaya, mengalahkan orang lain, memusuhi, membenci dan sifat-sifat buas lainnya. Jika kekuatan akalnya mengalahkan syahwatnya maka dia akan memiliki sifat iffah (menjaga kehormatan diri dan keluarganya) menyayangi, mencintai orang lain. Namun jika kekuatan syahwatnya mengalahkan akalnya dia akan memiliki sifat egois, tamak, dan ambisi. Jika kekuatan akalnya mengalahkan  imajinasinya dia akan memiliki sifat teliti dalam membuat perencanaan namun jika kekuatan imajinasinya mengalahkan akalnya dia akan memiliki sifat curang, penipu, licik dan lainnya.

Dengan demikian maka yang paling penting dalam membangun karakter seseorang adalah kemampuan untuk mengendalikan potensi-potensi diri yang ada dengan menguatkan potensi akalnya. Bagaimana caranya agar kita mampu menundukkan 3 potensi dasar tadi di bawah kendali potensi akal ?

Di sini kita harus mulai melakukan jihadul nafs yaitu usaha sungguh sungguh untuk mengendalikan 3 potensi nafsu angkara murka di atas. Banyak tahapan yang perlu dilakukan dalam melakukan jihadul nafs. Minimal ada 4 tahapan yang harus dilalui:

1. Melakukan tafakkur atau renungan dan pemikiran yang rasional mendalam terhadap  akibat dari perbuatan-perbuatan yang diakibatkan dari karakter-karakter yang buruk di atas. Kebahagiaan dan kesengsaraan diri kita sangat tergantung dengan karakter yang kita meliki sekarang. Karena karakter itu yang menentukan perbuatan, dan perbuatan itu yang menentuka nasib kita di masa yang akan datang.

2. Melakukan al-azm atau tekad yang kuat untuk melakukan jihadul nafs. Tanpa tekad yang kuat biasanya seseorang akan kembali melakukan hal-hal yang buruk. Dengan tekad yang kuat seseorang mampu merubah kebiasaan yang buruk menjadi baik.

3. Melakukan musyarathah (pengkondisian diri ) pada tahap ini seeorang melakukan perjanjian dengan dirinya untuk melakukan pekerjaan tertentu dan meninggalkan pekerjaan tertentu. Seperti dia berjanji kepada dirinya bahwa dia akan melakukan sholat malam, membaca istighfar 100 kali setiap hari dan lainnya.

4. Melakukan muroqobah atau pengawasan dan evaluasi diri setiap hari. Apabila yang dilakukannya sudah sesuai dengan rencananya maka dia bersyukur. Dan apabila tidak sesuai dia beristighfar. Tentunya untuk mendapatkan hasil yang baik, hal ini dilakukan secara istiqamah

Jika seseorang sudah mampu melakukan jihadul nafs, maka dia akan menapaki maqam-maqam mulia, terminal-terminal ilahiyyah mulai dari maqam taubah, maqam uns wa al ithmi’nan, maqam al-musyahadah

5.  Mengingat Allah (tadzakkur) adalah mengingat terus-menerus sebagai tanda rasa terima kasih pada Allah. Setelah semuanya dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang  akan memasuki beberapa fase atau satasiun (maqam), maqam yang pertama adalah maqam ilmu pengetahuan, maqam kedua adalah maqam ubudiyah (penghambaan), maqam ketiga ketenteraman dan thuma’ninah, dan maqam keempat adalah maqam musyahadah (penyaksian Tuhan)

Share this :