Share this :

Dewasa ini kita sering mendengar keluhan dari para guru bahwa banyak siswa sekarang ini yang kurang perhatian terhadap pelajaran, malas, mengantuk di kelas dan lainnya. Tentunya fenomena ini perlu dilihat secara objektif; bisa jadi memang karena siswa sedang mengalami bad mood, ada masalah, sehingga perlu dilakukan pembinaan khusus, atau mungkin karena metode pembelajaran yang diberikan oleh seorang guru kurang baik dan tidak menyenangkan. Pembelajaran di kelas seringkali dilakukan secara monoton, kaku dan menjemukan. Sehingga tidak sedikit para siswa yang kurang perhatian dengan pelajaran, ada yang ramai, tidak peduli dan mengantuk. Kondisi seperti ini bisa diperbaiki dengan meningkatkan kreativitas guru dalam menyampaikan pembelajaran. Karena, kreativitas guru dalam menyampaikan pelajaran sangat dibutuhkan untuk memantik semangat, gairah dan ketertarikan siswa dalam belajar dan juga dalam menyampaikan informasi secara mudah dan menyenangkan.

Kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan gagasan baru yang orisinal dan appropriate (cocok untuk mencapai hasil yang diinginkan) dengan sebaik-baiknya. Menurut para ahli, kreativitas merupakan hasil operasi otak kanan. Kreativiatas disebut juga pikiran-pikiran divergen (melebar) karena melibatkan berbagai kemungkinan cara untuk mencapai hasil terbaik yang diinginkan dan bukan pemikiran biasa yang sistematis dan berfokus pada satu kemungkinan.

Dalam psikologi positif, kreativitas dipercayai terjadi dalam keadaan flow, yakni ketika orang betul-betul terserap dan menikmati apa yang sedang dilakukan, kehilangan sense waktu, pikiran terpusat pada momen sekarang, merasa dalam kontrol penuh atas segala sesuatu, dan merasa benar-benar bebas. Dalam neuroscience keadaan ini diobservasi terjadi saat otak kita berada dalam suatu keadaan santai dan menyenangkan gelombang theta yakni ketika berada dalam keadaan antara jaga dan tidur.

Di sisi lain kreativitas sangat bergantung pada daya imajinasi, yaitu kemampuan membayangkan sesuatu tanpa melalui prosedur persepsi atas sesuatu itu dalam keadaan konkritnya. Dengan kata lain, semakin imajinatif maka semaikin kreatif. Bagaimana caranya menghasilkan kreativitas?

Menurut Graham Wallas yang dikemukakan pada tahun 1926 dalam bukunya “The Art of Thought” (Piirto, 1992), kreativitas melibatkan empat tahap; persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Pada tahap pertama, seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang lain, dan sebagainya. Pada tahap ini kita mengeksplorasi semua kemungkinan menghasilkan gagasan baru dengan cara apapun seperti brainstorming dan lainnya.
Pada tahap kedua, kegiatan mencari dan menghimpun data/informasi tidak dilanjutkan. Tahap inkubasi adalah tahap di mana individu seakan – akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi “mengeramnya” dalam alam pra – sadar. Sebagaimana terlihat dari analisis biografi maupun dari laporan tokoh seniman dan ilmuwan, tahap ini penting artinya dalam proses timbulnya inspirasi yang merupakan titik mula dari suatu penemuan atau kreasi baru berasal dari daerah pra – sadar atau timbul dalam keadaan ketidaksadaran penuh.

Tahap ilumunasi adalah tahap timbulnya “insight” atau “Aha – Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau gangguan baru, beserta proses – proses psikologi yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru.

Ketika seseorang sudah melakukan eksplorasi beberapa gagasan kemudian dia beristirahat sejenak dengan jalan santai, atau mandi di bath tub, berkendara di jalan tol atau nongkrong di warung kopi, dengan suasana santai dan rileks kemudian muncul ide yang cemerlang sehingga kita mampu mendapatkan meoment “aha”, yakni lampu otak kita menyala dengan membawa gagasan orisinal, maka kita telah melewati tahapan inkubasi dan iluminasi.

Tahap verifikasi atau evaluasi adalah tahap di mana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Dengan perkataan lain, proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti oleh proses konvergensi (pemikiran kritis).

Terkait dengan pembelajaran, suasana belajar mengajar yang penuh variasi pengalaman belajar, penyediaan ruang seluas-luasnya untuk mencoba hal baru serta atmosfir yang menyenangkan dan bebas dari ketakutan mengalami kegagalan merupakan prasayarat-prasyarat yang harus dipenuhi dalam rangka meningkatkan kreatifitas bagi siswa dan guru. Di samping itu diperlukan suasana otak yang flow, santai, dan tidak banyak terbebani dengan berbagai tugas yang memberatkan dan kondisi emosi positif. Dengan demikian akan muncul gagasan-gagasan baru dan kreativitas semakin meningkat. Selamat mencoba

Share this :