Selamat Tinggal UN

Selamat Tinggal UN

Dengan keluarnya Edaran Menteri Pendidikan no 4 tahun 2020, maka sudah diputuskan bahwa Ujian Nasional yang sedianya ditiadakan untuk tahun depan, maka ditiadakan sejak tahun ajaran ini. Hal itu mengingat penyebaran covid 19 yang semakin mengganas. Tentunya keputusan ini merupakan keputusan darurat seiring dengan keadaan darurat negara yang ditimbulkan karena corona. Sehingga hal ini tidak bisa diperdebatkan dan didiskusikan.

Terlepas dari itu semua, sebenarnya pelaksanaan Ujian Nasional masih sangat diperlukan untuk meningkatkan prestasi dan semangat siswa dalam belajar. Tidak bisa dipungkiri, bahwa motivasi belajar siswa- siswa kita masih tergantung pada faktor-faktor eksternal seperti ujian, PR, tugas, lomba, hadiah, sanksi atau prestasi yang prestise. Walaupun mestinya pembelajaran itu harus mengacu pada pembelajaran yang bermakna yang dimotivasi oleh faktor-faktor dari dalam diri. Seperti ketika siswa belajar matematika karena ingin meningkatkan pengembangan dirinya mempersiapkan untuk masa yang akan datang, karena dia ingin menjadi ilmuwan di bidang matematika. Dan hal ini masih sangat sedikit sekali, apalagi di era sekarang ini, era digital, banyak siswa yang kurang serius dalam belajar dan disibukkan dengan smartphone.

Untuk itu, menurut saya yang perlu diperhatikan oleh semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan adalah bagaimana pola pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar baik yang bersifat ekstrinsik atau instrinsik, motivasi dari luar atau dari dalam. Sehingga dengan demikian kualitas pembelajaran dan peningkatan prestasi siswa dapat dicapai. Jika tidak, maka yang terjadi adalah sekedar uforia siswa dan sifat acuh tak acuh terhadap pelajaran dan guru karena tidak ada Ujian Nasional.

Menurut saya ada beberapa hal yang dapat meningkatkan perhatian dan fokus siswa dalam belajar : Pertama, belajar sesuai dengan passion, bakat dan minat siswa. Untuk itu diperlukan sebuah penelitian dan research bakat dan minat siswa, kecerdasan dan passionnya. Dengan demikian siswa belajar karena tuntutan dari dalam dirinya sendiri. Kedua, siswa belajar materi-materi, ketarampilan-ketrampilan yang menuntut dan mendukung impiannya sesuai dengan bakat dan minatnya tadi. Siswa belajar sedikit tapi totalitas, Pelajaran-pelajaran yang tidak terlalu berhubungan tidak perlu dipelajari. Ketiga, Paradigma pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher center) dirubah menjadi (student center), pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa yang memilih materi pelajaran yang dia butuhkan sesuai dengan bakat, minat, passion dan kecerdasannya.

Untuk itu siswa juga dibekali ketrampilan hidup (life skill) yang mendukung, seperti self learning skill (ketrampilan belajar sendiri), personal productivity skill ( ketrampilan produktivitas diri), Management mind skill (ketrampilan mengelola pikiran), time management skill (ketrampilan mengatur waktu) dan lainnya. kecakapan kecakapan ini penting untuk membekali siswa dalam upaya pengembangan dirinya secara maksimal.

Untuk merealisasikan itu semua ada dua hal yang bisa dilakukan; Pertama, sentralisasi kurikulum yaitu kurikulum diatur sepenuhnya oleh pusat dan satuan pendidikan dapat mengembangkannya. Kedua, disentralisasi kurikulum, yaitu sekolah bisa membuat kurikulum sendiri secara bebas dan mandiri sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Pemerintah pusat melakukan guidance dan bimbingan dalam menyusun dan mengaplikasikan kurikulum yang dibuatnya sendiri. wallahu a’lam bisshowaab.

Bersikap Bijak Terhadap Corona

Bersikap Bijak Terhadap Corona

Wabah corona telah menyebar ke seluruh pelosok dunia. Banyak cara orang menyikapinya. Ada yang gelisah, khawatir, takut bahkan ada yang paranoid, panik, memborong masker, sembako dan lainnya. Itu semua sah sah saja sebagai tindakan preventif antisipatif terhadap penularan wabah corona tersebut. Hanya saja kita sebagai manusia berakal tidak bisa begitu saja meninggalkan nalar dan logika kita dalam keadaan apapun. Apalagi sebagai seorang yang beragama ada nilai nilai agama yang harus diyakini dalam menghadapi permasalahan apapun. Untuk itu, kita dituntut untuk bersikap bijak dalam menghadapinya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyikapi merebaknya wabah corona ini. Pertama, hendaknya kita menyikapinya secara rasional dengan mengikuti saran dan aturan medis untuk langkah langkah pencegahan, seperti menjaga kekebalan tubuh dengan mengkonsumsi banyak vitamin dan minuman yang mengandung curucumma, menjaga kebersihan tangan dengan sabun dan antiseptic, dan menjaga kebugaran tubuh. Kedua, mengikuti informasi informasi resmi dari pemerintah dan percaya pada langkah langkah yang dilakukan oleh pemerintah. Ketiga, memperhatikan aspek spiritual dari setiap musibah dan bencana, seperti keyakinan bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, musibah dan bencana merupakan ujian untuk meningkatkan kualitas spiritual, intelektual dan material, Allah Maha Adil dan Maha kasih Sayang, setiap ujian pasti sesuai dengan kemampuannya, Semua yang terjadi merupakan ketentuan dan takdir Allah swt. Dibalik kesulitan dan musibah pasti ada kebaikan dan hikmah dibaliknya, Setiap musibah merupakan peringatan agar lebih banyak menyebut dan mengenal Allah swt, dan lainnya. Keempat, membaca do’a-do’a yang dianjurkan untuk mencegah penyakit dan wabah seperi yang diajarkan oleh Rasul saw seperti dengan membaca surat al-falaq, al-nas sebanyak 3 kali setiap pagi dan sore dan lainnya. Kelima, pasrah dan tawakkal kepada Allah swt. Dengan menyerahkan segala urusan kepada Allah swt, pasti Allah swt akan menyelesaikan segala urusan kita.
Dengan demikian, kita tidak perlu takut yang berlebihan dalam menghadapi apapun selama kita bersama Allah swt. Allah swt lebih besar dari apapun termasuk dari wabah corona, Karena, Allah swt yang menciptakan dan mengatur alam semesta dan seisinya. Yang perlu ditakuti adalah ketika kita jauh dari Allah swt, melakukan maksiat kepadaNya dan berbuat dholim dan aniaya kepada sesama. Karena pada saat itu kita sedang melawan arus besar dan gelombang yang dahsyat yang akan menenggelamkan kita.

Pentingnya Karakter dan Etos kerja Dalam Peningkatan Pendidikan

Pentingnya Karakter dan Etos kerja Dalam Peningkatan Pendidikan

By Dr. Abdul Mukmin, M.Pd.I

Pendidikan di Indonesia berada di persimpangan jalan, antara pendidikan feodalistik dan liberalistik, antara teacher oriented dan student oriented, antara behavoirisme kognitivisme dan humanisme konstruktivisme. Sistem pendidikan Indonesia masih mencari bentuk dan jati dirinya. Mau dibawa ke mana sistem pendidikan kita ? Begitu kira-kira pertanyaan besar di benak para praktisi dan pegiat pendidikan.

Belum lama ini Bapak Menteri Pendidikan Nadhiem Makarim menyimpulkan bahwa solusi pendidikan Indonesia adalah merdeka belajar bagi siswa, guru, kepala sekolah dengan menerbitkan 4 kebijakan; USBN, UN, RPP dan sistem zonasi untuk PPDB. Hal itu tentunya sah-sah saja sebagai langkah awal untuk sedikit meringankan beban guru, siswa dan kepala sekolah. Namun menurut saya ada hal yang sebenarnya lebih urgent dari sekedar merubah atau mengganti sistem yang sudah ada yaitu karakter dan etos kerja.

Sistem sebaik apapun jika karakter dan etos kerja kurang baik maka pasti hasilnya nihil. Oleh karenanya, yang perlu dikawal adalah meningkatkan karakter dan etos kerja pegiat pendidikan mulai dari guru, pegawai, kepala sekolah dan Dinas Pendidikan. Ada dua hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan karakter dan etos kerja yaitu pembinaan dan pengawasan. Dua hal ini yang perlu untuk ditingkatkan baik kualitas dan kuantitasnya.

Pertama, Pembinaan. Pembinaan yang dilakukan selama ini masih pada pembinaan teknis praktis, tidak mencakup pembinaan mental dan spiritualnya. Padahal pembinaan mental dan spiritualitas guru sangat penting dan memiliki pengaruh secara signifikan terhadap etos kerjanya.

Dr. Abu Bakar Baharun dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara spiritualitas guru dengan etos kerja. Nilai keikhlasan, kejujuran, amanat, pengabdian, pengorbanan, semangat beramal, berbagi, dan berinvestasi akherat sangat penting untuk ditanamkan bagi guru, kepala sekolah dan juga pegawai.

Nilai-nilai ini sekarang ini sudah semakin pudar dan langka. Banyak dari para pegiat pendidikan berorientasi pada bisnis dan materi dalam melaksanakan proses pendidikan. Banyak guru pintar tetapi tidak membawa nilai-nilai kebenaran. Banyak guru yang ahli tetapi tidak memiliki hati. Sehingga tidak heran kalau sementara ini ada asumsi yang menyebutkan bahwa tunjangan sertifikasi guru tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Hal itu karena faktor utama yaitu karakter guru masih terabaikan. Untuk itu, pelatihan-pelatihan mental spiritual guru perlu diadakan. Karena dari sinilah akan muncul semangat dan etos kerja dalam bekerja serta akan tumbuh kreativitas dan inovasi dalam mengajar.

Kedua, pengawasan. Manusia adalah makhluk yang cenderung untuk berbuat salah dan lupa. Untuk itu diperlukan pengawasan dalam rangka untuk saling mengingatkan akan kebenaran dan kesabaran. Pengawasan yang dilakukan sementara ini sudah ada namun masih jauh dari harapan. Hal itu karena kurangnya tenaga pengawas baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Dari segi kuantitas, jumlah pengawas masih sangat minim dan sedikit sehingga kadang satu pengawas membawahi 10 sekolah atau lebih. Sehingga sulit baginya untuk mengawasi secara maksimal. Dari segi kualitas pengawas juga perlu ditingkatkan agar benar-benar melakukan pengawasan secara baik. Kualifikasi pengawas harus ditingkatkan seiring dengan kemajuan zaman.

Dengan pembinaan dan pengawasan yang baik, dapat dipastikan pendidikan akan semakin menigkat, siswa akan semakin baik dan berprestasi.

Belajar Dari Kesalahan

Belajar Dari Kesalahan

Orang yang baik dan sukses tidak berarti tidak pernah berbuat salah. Namun karena mereka mampu mengambil pelajaran dari kesalahan dan bangkit dari keterpurukan. Berbuat salah adalah hal yang wajar dan biasa bagi manusia seperti kita. Hal itu sebagaimana pepatah Arab yang mengatakan Al-Insan mahalul khotoi wa al-nisyan, (manusia tempat salah dan lupa). Hanya saja, yang diharapkan dari keslahan ini adalah pengakuan yang tulus dan kesadaran untuk memperbaiki diri. Kesalahan hendaknya dijadikan sebagai sarana pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Untuk itu diperlukan langkah-langkah berikut ini :

Pertama, mengakui bahwa dia telah berbuat salah dan khilaf. Pengakuan adalah langkah awal untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan. Tanpa pengakuan yang tulus, seseorang akan sulit untuk belajar dari kesalahannya.

Kedua, merasa menyesal atas perbuatannya. Perasaan menyesal ini sangat penting agar pertobatannya menjadi lebih berarti dan bermakna bagi dirinya dan kehidupannya. Jika tidak ada penyesalan sama sekali dalam dirinya, maka sudah pasti dia akan mengulangi kembali kesalahannya.

Ketiga, memohon maaf dan ampunan dari Allah swt atau dari orang yang telah diperlakukan secara salah. Untuk itu perlu dilihat, dia berbuat salah kepada siapa ? kepada Allah swt atau kepada orang lain. Permohonan maaf harus dilakukan secara tulus dengan menerima segala konsekwensinya.

Keempat, bangkit dan mengerjakan hal-hal yang positif. Kesalahan bukan akhir dari kehidupan. Kehidupan masih panjang yang harus dijalaninya.Untuk itu ada dua pilihan di hadapan orang yang telah berbuat salah; menyerah dan terpuruk dalam kesalahan yang terus menerus atau bangkit dan berusaha memperbaiki diri dengan rasa optimis menatap masa depannya. Hanya dengan mengerjakan hal-hal yang positif seseorang bisa bangkit dan keluar dari kesalahannya. Kesalahan yang tidak diakhiri dengan perbuatan-perbuatan yang positif tidak akan menghasilkan apa apa, justru semakin memperburuk keadaan.

Untuk itu diperlukan upaya serius untuk mengerjakan hal-hal yang positif sehingga dengan demikian akan menutupi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Karena perbuatan baik akan menghilangkan perbuatan yang buruk. Hal itu sebagaimana firman Allah swt :

ِاِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّأَت

Artinya : Sesungguhnya kebaikan akan menghilangkan kesalahan.

Dengan demikian maka hendaknya kesalahan dijadikan sebagai pelajaran untuk mengerjakan hal-hal yang positif dan bejanji untuk tidak melakukan yang kedua kalinya. Seorang yang beriman tidak akan masuk terjerumus ke dalam jurang dua kali. Begitu kata Rasul saw.

Bagaimana Menyikapi Ujian Kehidupan ?

Bagaimana Menyikapi Ujian Kehidupan ?

Akhir-akhir ini kita menyaksikan di beberapa daerah adanya bencana alam di mana-mana. Mulai dari banjir di Jakarta, Banten dan di kota-kota lainnya. Yang pasti bencana alam tersebut menelan banyak korban jiwa dan harta benda. Ada yang mengeluh, mempertanyakan keadilan Tuhan, ada yang stress, tidak mampu menerima keadaan yang ada, ada yang menyalahkan pemerintah yang banyak berbuat dholim dan kemaksiatan dan masih banyak lagi reaksi masyarakat dalam menyikapi permasalahan bencana ini. Terlepas dari sebab-sebab terjadinya bencana alam tersebut baik secara fisik maupun non fisik, kita harus menyikapinya dengan bijak. Karena kehidupan harus tetap berjalan dengan baik . Bagaimana sebenarnya kita menyikapinya ?

Al-Qur’an menjelaskan dalam surah al-Mulk bahwa kehidupan dan kematian diciptakan oleh Allah swt sebagai ujian untuk menyeleksi manusia siapa di antara mereka yang paling baik amalnya. Allah berfirman :

اَلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلاً

Artinya : Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (Q.S. al-Mulk; 2)

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa semua yang terjadi di dalam kehidupan dan kematian merupakan suatu ujian yang Allah swt siapkan untuk menguji umat manusia. Ujian dapat berupa hal-hal yang menyulitkan, menyengsarakan dan mematikan ada pula berupa hal-hal yang menyenangkan dan memudahkan. Hal itu sebagaimana firman Allah swt :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنِةً وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

Artinya: Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.

( Q.S. Al-Anbiya; 35)

Ujian berupa bencana alam, kesakitan, kesulitan dan lainnya gampang dideteksi dan dirasakan sehingga kita bisa waspada dan berhati-hati dalam menghadapinya. Yang sulit diketahui adalah ujian dalam bentuk kenikmatan, karunia dan anugerah seperti kesehatan, kekayaaan, kesejahteraan hidup dan kemudahan dalam segala hal. Hal ini justru menjadikan manusia lalai dan lupa daratan, sehingga dia gampang terjerumus ke dalam lembah kesesatan. Padahal semua yang terjadi adalah sebagai ujian bagi kita.

Untuk itu agar kita sukses dalam menjalani ujian kehidupan ini, diperlukan 3 hal penting : kesadaran, kesabaran dan kelapangan. Kesadaran merupakan hal yang sangat penting dalam menghadapai berbagai macam ujian yang dihadapinya.

Pertama, kesadaran bahwa ujian merupakan tangga menuju kesempurnaan. Hanya dengan ujian seseorang dapat naik kelas dan menapaki tangga kehidupan yang lebih baik. Semakin banyak ujian maka seseorang akan semakin tinggi derajatnya dan semakin kuat dan sempurna kepribadiannya.

Kedua, Kesadaran bahwa dibalik ujian yang dihadapinya pasti banyak kemudahan dan kebaikan yang tersimpan di dalamnya. Banyak ayat dalam al-qur’an yang menegaskan bahwa dibalik kesulitan pasti ada kemudahan, bersama kesulitan ada kemudahan. Dengan demikian ketika kita sedang mendapatkan kesulitan pasti setelahnya ada kemudahan-kemudahan dan kebaikan yang akan didapatkannya. Dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah menegaskan bahwa mungkin di balik apa yang tidak kamu sukai terdapat kebaikan bagi kamu dan dibalik apa yang kamu sukai terdapat keburukan bagi kamu. Allah swt berfirman :

وَعَسَى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ

Artinya : Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. (Q.S. Al-Baqarah ; 216)

Ketiga, Kesadaran bahwa ujian merupakan pelajaran yang berharga dan pengingat agar kita senantiasa dekat dengan Tuhan. Ujian merupakan pelajaran yang harus diambil hikmahnya. Untuk itu diperlukan introspeksi diri saat mengahadapi ujian kehidupan. Ujian merupakan bentuk kasih sayang Allah swt agar manusia senantiasa ingat dan dekat kepada Allah swt. Kadang manusia dengan kehidupan yang mapan, enak dan menyenangkan melupakan Allah dan mengingkari nikmat dan karuniahNya. Untuk itu Allah swt memberikan ujian agar manusia ingat selalu dan dekat kepada Allah swt.

Keempat, Ujian merupakan penghapus dosa dan noda. Sehingga diharapkan dari ujian ini, kita kembali suci dari dosa dan noda. Banyak dosa yang kita lakukan setiap hari, baik yang disengaja atau tidak. Sehingga hal itu perlu untuk dibersihkan, agar kita tetap dalam keadaan suci dan fitri. Sayidina Ali kw, dalam doa Kumailnya mensinyalir ada 6 akibat perbuatan dosa yang kita lakukan; menghancurkan penjagaan, Mendatangkan bencana, merubah kenikmatan, menghalangi terkabulnya doa, menurunkan bala’, dan memutuskan pengharapan.

Kelima, kesadaran bahwa ujian yang kita hadapi pasti akan dapat diselesaikan dengan baik. Dan Allah sudah mempersiapkan cara-cara dan sarana prasarana untuk menghadapinya. Karena Allah swt tidak mungkin memberikan ujian yang di luar kemampuan hambanya. Allah swt berfirman :

لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا

Artinya : Allah swt tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya ( Q.S. Al-Baqarah; 286)

Dari keterangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dibalik kesusahan, kesengsaraan, kesakitan yang kita hadapi semuanya ada kebaikan bagi kita. Hanya saja diperlukan kesabaran, kelapangan, berusaha dan tetap bersyukur kepada Allah swt dalam keadaan apapun. Dengan Kesabaran dan kelapangan seseorang akan mampu bertahan dan berusaha mencari solusi. Dan dengan bersyukur seorang akan menjadi lebih bahagia dan optimis dalam memandang kehidupan di masa mendatang. Tanpa kesabaran dan kelapangan tidak mungkin seseorang akan berhasil menghadapi kesulitannya.

Masalah terbesar yang menghalangi seseorang untuk keluar dari kesulitan adalah faktor kejiwaannya; mulai dari tidak memiliki kesadaran dan wawasan yang mendalam akan bencana, tidak adanya kesabaran dan kelapangan, banyak mengeluh dan kurang bersyukur serta tidak adanya optimisme dalam memandang kehidupan. Jika masalah kejiwaan di atas dapat diselesaikan, niscaya dia akan mampu menghadapi masalah ujian kehidupan dengan lebih baik dan berhasil keluar dari permasalahannya dengan hasil yang maksimal.